Senin, 23 Juli 2012

Setelah 150 tahun, Kura-kura Galapagos Ini Bakal Hidup Kembali


Setelah 150 tahun menyandang status punah, spesies kura-kura raksasa Galapagos kemungkinan besar muncul kembali. Para peneliti “menemukan” spesies yang hilang ini, yang disebut Chelonoidis elephantopus, dengan menganalisis gen spesies kerabat dekatnya, Chelonoidis becki.
Kerabat dekat itu tinggal di Pulau Isabela, pulau terbesar di Kepulauan Galapagos di Samudera Pasifik. Pulau ini terletak sekitar 322 kilometer dari Pulau Floreana Island, lokasi C. elephantopus terakhir terlihat sebelum menghilang.
Para peneliti menduga C. elephantopus punah karena diburu oleh para pemburu paus yang menjelajah di kawasan Kepulauan Galapagos sekitar 150 tahun yang lalu. Mereka menerbitkan penelitiannya dalam jurnalCurrent Biology.
Dua spesies kura-kura raksasa ini hidup di Kepulauan Galapagos. Namun, kedua spesies kura-kura, yang kita kenal dipelajari oleh Charles Darwin, memiliki bentuk tempurung berbeda.
Tempurung C. elephantopus di Pulau Floreana berbentuk pelana, sementara spesies kura-kura di pulau-pulau lainnya, termasuk C. becki, memiliki tempurung berbentuk kubah. “Kura-kura raksasa ini bisa berbobot hampir 408 kilogram dan panjangnya mencapai hampir 1,8 meter,” kata salah seorang peneliti.
Penelitian bermula ketika pada tahun 2008 para ilmuwan memperhatikan beberapa kura-kura C. becki memiliki tempurung yang berbentuk lebih mirip pelana daripada kubah, ciri khasnya selama ini. Belakangan para ilmuwan menemukan bahwa kura-kura tersebut adalah keturunan campuran (hibrida) hasil perkawinan C. becki dengan C. elephantopus.
Mereka mengambil sampel untuk analisis genetik dari 1.669 kura-kura dewasa yang tinggal di pulau itu. Sampel yang diambil sebanyak 20 persen dari total populasi kura-kura. Hasilnya, para ilmuwan menemukan beberapa potongan gen C. elephantopus di dalam populasi.
Mereka lalu menggunakan model komputer khusus untuk menganalisis bagaimana gen spesies kura-kura yang sudah punah ini memasuki populasi. “Hal itu hanya dapat terjadi saat seekor C. elephantopus hidup kawin dengan C. becki. Ini adalah bukti tidak langsung bahwa C. elephantopus masih hidup,” kata seorang ilmuwan.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa 84 dari seluruh sampel kura-kura memiliki penanda genetik yang menunjukkan salah satu orang tua mereka adalah spesies C. elephantopus. Sebanyak 30 ekor di antaranya berumur kurang dari 15 tahun. Para ilmuwan optimistis induk mereka, yakni C. elephantopus masih hidup, mengingat masa hidup kura-kura itu bisa mencapai lebih dari 100 tahun.
“Ini adalah laporan pertama dari penemuan kembali spesies dengan cara melacak rekam jejak genetik dari gen keturunan hibrida,” kata Ryan Garrick, peneliti dari Yale University, Amerika Serikat. Peneliti yang sekarang menjadi asisten profesor di University of Mississippi mengatakan temuan ini memberi nafas baru pada upaya konservasi bagi spesies-spesies yang terancam punah.
Menurut Garrick, dari perbedaan genetik di antara kura-kura hibrida, para peneliti memperkirakan setidaknya ada 38 ekor C. elephantopus tertinggal di Kepulauan Galapagos, dan banyak di antaranya yang mungkin masih hidup.
Jika dapat menemukan keberadaan populasi C. elephantopus yang tersembunyi, para peneliti bisa menangkap beberapa di antaranya untuk menjalankan program pemuliaan yang bertujuan memperbanyak anggota populasi. Mereka bahkan bisa mencoba menciptakan ulang spesies C. elephantopus dari potongan genetik yang ditemukan dalam C. becki.
“Ini bukan hanya kerja akademis,” kata peneliti Gisella Caccone dari Yale University. “Jika dapat menemukan kura-kura ini, kita dapat mengembalikan mereka ke pulau asalnya.”
Menurut Caccone, upaya konservasi kura-kura Galapagos sangat penting karena mereka adalah spesies kunci yang memegang peran penting untuk mempertahankan keseimbangan ekologis ekosistem kepulauan di Galapagos.
Dalam sejumlah spekulasi, para peneliti tidak yakin bagaimana kura-kura raksasa bisa berpindah dari Pulau Floreana ke Pulau Isabela. Mereka menduga kura-kura raksasa awalnya sengaja dibawa ke Pulau Isabela sebagai makanan, tapi kemudian sebagian di antaranya dibuang begitu saja ke laut dan ditinggalkan di pantai.
LIVESCIENCE | MAHARDIKA SATRIA HADI
HostingKita

Tidak ada komentar: